DOA YANG TERLUPAKAN SAAT SHALAT

DOA YANG TERLUPAKAN SAAT SHALAT 
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
BACALAH DOA INI DALAM SHALAT ANDA…!!!
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•

 Simak di link YouTube :
https://youtu.be/sOKg6Dp3Eoc

Doa yang diajarkan Nabi Shallallahu alaihi wasallam :

((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ))

Artinya :
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang-orang miskin, ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah aku, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah (tenggelam dalam ujian api fitnah). Aku memohon kecintaan-Mu terhadapku, kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan terhadap amalan yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.“
(HR. Ahmad 36/423 No. 22109, At-Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir Surat Shad No. 3235. Dishahihkan Syeikh Al-Albany dalam Shahih At-Tirmidzy 3/318).

Ini adalah termasuk doa yang kandungannya amat sempurna, padanya permintaan Taufiq dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Hadits Al-Qudsy tersebut memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tatkala melihat-Nya dalam tidurnya :

“Wahai Muhammad ! Jika engkau shalat, bacalah : . . .“
(Yaitu doa tersebut di atas)

1. ((اللَّهم إني أسألك فعل الخيرات وترك المنكرات))

Artinya :
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.“

Yang seperti ini akan memudahkan kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhkan kita dari kemaksiatan. Sehingga dihasilkan kebaikan baginya di dunia dan di akhirat.

2. ((حب المساكين))

Artinya :
“Serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang-orang miskin.“

Dan mencintai orang-orang miskin juga termasuk bagian dari perbuatan kebaikan. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memohon kepada Allah Ta’ala agar termasuk golongan mereka, dibangkitkan dan diwafatkan bersama mereka.

 Bahkan beliau berdoa :

((اللَّهم أحيني مسكيناً، وأمتني مسكيناً، واحشرني في زمرة المساكين))

Artinya :
“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama gerombolan orang-orang miskin.“
(HR. At-Tirmidzi dalam Kitabuz Zuhud No. 2352, dan Ibnu Majah dalam Kitabuz Zuhud No. 4126, dan Al-Hakim 4/322. Dan dihasankan Syeikh Al-Albany dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No. 3328).

Dan asal bahasa yang dimaksudkan dengan miskin adalah orang yang tawadhu’, rendah hati, lembut. Dan miskin adalah lawan dari kibr (kesombongan).
(Lihat Lisanul Arab 13/216)

Kecintaan pada orang-orang miskin adalah kecintaan yang dibangun karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka punya harta dunia atau tidak kecuali mereka tetap dalam keadaan tawadhu’ rendah hati dan tidak sombong.

3. ((وأن تغفرلي وترحمني))

Artinya :
“Ampunilah dan rahmatilah aku.“

Yaitu permohonan ampun agar selamat dan aman dari adzab siksaan-Nya karena kejelekan dosa yang telah diperbuatnya.
Dan permohonan rahmah kasih sayang-Nya untuk dimasukkan jannah (surga) Nya.
Juga kita mengharap rahmat sayangnya agar menutup dan menghapus aib-aib kita.

 Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Al-Qudsy :

 ((إن اللَّه عز وجل يقول للجنة: أنت رحمتي أرحم بك من أشاء من عبادي))

Artinya :
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada Jannah (Surga) : Kamu adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja dari hamba-hamba Ku.“
(HR. Al-Bukhari dalam Kitabut Tafsir No. 4850 dan Muslim No. 2846).

4. ((وإذا أردت فتنة قوم فتوفني غير مفتونين))

Artinya :
“Jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah (tenggelam dalam api fitnah).“

Maksudnya yaitu keselamatan dari fitnah-fitnah dengan panjangnya umur, keselamatan dari segala kejelekan sebelum terjadinya, dan agar Allah Ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan selamat dari terjadinya fitnah (Syahwat dunia atau Syubhat agama).

 Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

((ﺍﺛﻨﺘﺎﻥ ﻳﻜﺮﻫﻬﻤﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ : ﻳﻜﺮﻩ ﺍﻟﻤﻮﺕ ، ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ ﺧﻴﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ، ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻗﻠﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻗﻞ ﻟﻠﺤﺴﺎﺏ))

Artinya :
“Dua hal yang dibenci oleh anak Adam yaitu : benci kepada kematian, padahal kematian bagi kaum mukminin itu lebih baik dari pada fitnah dan benci jika hartanya sedikit, padahal harta yang sedikit itu, sedikit pula hisabnya”.
(HR. Ahmad 39/36 No. 23625, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shohabah 5/2525 No. 6114. Dan dishahihkan Al-Albany dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/129).

5. ((وأسألك حبك))

Artinya :
“Dan aku memohon kecintaan-Mu terhadapku.“

Dan dahulu Nabi Daud ‘Alaihis Salam juga berdoa semisal ini, sebagaimana hadits Shahih :

وعن أَبي الدَّرداءِ ، قَالَ: قَالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: كانَ مِن دُعاءِ دَاوُدَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ”اللَّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّك…“

Siapa yang tidak menginginkan Penciptanya dia cinta terhadapnya !

Tentunya kita semua berharap menjadi hamba-Nya yang dicintai Allah Ta’ala di sisi-Nya

Dan ketahuilah bahwa aqidah yang benar tentang kecintaan Allah adalah Allah Ta’ala itu mencintai dan dicintai.

Maka orang-orang yang dicintai Allah Ta’ala adalah mereka yang ucapannya, perbuatannya, dan amalan hatinya diberi taufiq dan mencocoki apa yang dikehendaki Allah Ta’ala.
(Lihat selengkapnya dalam Shahih Al-Bukhari dalam Kitab Bad’il Khalq No. 3209 dan Muslim No. 2637).

Juga diantara sebab Allah Ta’ala mencintai kita adalah kita mengikuti ajaran Nabi-Nya :

Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS. Ali ‘Imran : 31)

Sedang diantara tanda kecintaan Allah Ta’ala pada hamba-Nya adalah dengan musibah yang ditimpakan untuknya, sebagaimana hadits Nabi ﷺ :

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ».

Artinya:
“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah).”
(Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al Albani)

6. ((وحب من يحبك))

Artinya :
“Dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu.“

Baik dari kalangan manusia ; Anbiya’ (para Nabi), Ulama’ (para ahli ilmu) dan Sholihin (orang-orang sholih).
Atau dari kalangan jin dan malaikat.

7. ((وحب عمل يقربني الى حبك))*

Artinya :
“Dan kecintaan terhadap amalan yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.“

Yaitu permintaan taufiq kepada kecintaan amalan yang sholih yang bisa mendekatkan kecintaan Allah Jalla Wa ‘Ala.

Wallahu Ta’aala A’lam Bis Shawab.

 Ditulis oleh :
 Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah

#moslemnextgeneration #mng #abdurrahmandaniofficial #kajian #kesehatan #islam #thibbunnabawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *